Home » Home Industri » Bisnis kemasan Toples Hias dan Box Kue

Bisnis kemasan Toples Hias dan Box Kue

Bisnis Kemasan yang paling banyak diminati jelang lebaran adalah kemasan untuk menyimpan makanan, mulai dan lauk pauk, hingga kue kering, seperti box dan toples. Tak heran jika peluang bisnis kemasan khususnya menjelang lebaran sangat cerah. Seperti apa persaingan dan apa saja kiat memasarkannya?

Bisnis kemasan Toples Hias dan Box Kue – Kemasan dibutuhkan untuk menyimpan produk, namun kini kemasan juga mampu meningkatkan nilai jual produk dan menambah daya tarik produk yang dikemas.Termasuk kemasan yang digunakan untuk kebutuhan Lebaran. Dan berbagai jenis kemasan, kemasan yang paling banyak diminati untuk Lebaran saat ini berupa box dan toples. Model box dan toples juga semakin variatif, tak sekadar box dan toples polos seperti halnya keluaran pabrik, namun bisa dibuat tampil menarik dengan kombinasi berbagai bahan. Misalnya untuk box bisa dilapisi kertas, beludru, kulit sintentis atau, vinyl, hingga bahan berupa wallpaper pun bisa digunakan dengan tampilan motifnya yang menambah cantik kemasan box. Beberapa aksesoris tambahan seperti pita, bunga plastik, hingga payet bisa ditambahkan. Begitu juga toples yang kini dipercantik dengan berbagai cara mulai dilukis, dilapisi bahan flanel, kain tile, hingga manik-manik.

Tren kemasan yang saat ini diminati terutama kemasan yang menghadirkan model karakter, dan menjelang Lebaran karakter yang paling banyak diminati adalah karakter bertema Lebaran, seperti kubah mesjid, ketupat, hingga kue-kue Lebaran. Hal ini terlihat jelas pada kemasan berbahan hardbox(karton kuning standar dengan ketebalan 2 mm), maupun toples hias yang bagian topping (permukaan atas toples dihias dengan aneka karakter yang menarik).

Bahan yang diminati pada kemasan box berupa hard box serta kayu MDF (medium density fibreboard), dengan nuansa warna cokelat, sedangkan pada kemasan toples lebih banyak menggunakan toples plastik, mika dan toples kaca. Yang perlu diperhatikan adalah bahan kemasan untuk wadah makanan sebaiknya aman digunakan untuk makanan dan hindari menggunakan bahan kertas daur ulang.

Jelang Lebaran produsen kemasan Kiass Artindo dapat memenuhi order box tak kurang dan 6.000 pcs per bulan, naik 6 kali lipat dari bulan biasa. Irene Sudjono, Pemilik The Box juga mengakui saat mi memang sudah ada konsumen yang order box kemasan untuk Lebaran yang biasanya digunakan untuk mengemas kue kering yang akan dikirim ke kerabat atau rekan. Saat ini model kemasan yang tren diminati di The Box adalah model karakter seperti box model rantang susun dua yang digunakan untuk wadah lauk pauk Lebaran atau jajanan lebaran, maupun kue Lebaran seperti Kue Lapis Legit. Box mi berbahan hard carton dan dihiasi bunga plastik, dengan warna disesuaikan tema Lebaran seperti hijau, kuning dan lainnya. Sisi sampingnya diberi gagang kayu menyerupai gagang rantang yang dihias lilitan tali tambang.

Segmen Pasar. Selain kalangan perorangan, kemasan untuk Lebaran juga diminati kalangan perusahaan dan pengusaha, seperti toko kue. Harga jual produk kemasan sangat tergantung segmen pasar yang dituju. Kemasan toples yang menyasar kelas menengah atas harga jualnya lebih dan Rp 50 ribu, dan yang menyasar kelas menengah bawah kurang dan Rp 50 ribu. Box kemasan yang menyasar segmen menengah atas harga jualnya Rp 30 nibu ke atas, dan yang menyasar segmen menengah ke bawah kurang dan Rp 30 ribu. Kemasan box Iebih murah harganya dibandingkan toples mengingat bahan baku karton hard box lebih murah dibandingkan toples. Namun ada pula box yang harganya melebihi toples hias, khususnya untuk box yang dilapisi bahan yang terlihat eksklusif seperti beludru atau kulit sintetis yang ditawarkan Irene Sudjono, pemilik The Box dengan harga Rp 600 nbu berupa box dengan model peti. Seperti kemasan toples hias

Alisa Craft dan bahan manik-manik berbahan akrilik yang harganya Rp 70-100 ribu dengan menyasar segmen pasar menengah atas. Dengan hanga tersebut, toples yang digunakan berupa toples kaca yang harganya lebih mahal dibandingkan toples mika yang harganya sekitar Rp 25 ribu per lusin. Variasi harga itu juga tergantung kualitas toples. Untuk toples hias seharga Rp 70 ribu menggunakan toples kaca tanpa karet di tutup toples, sedangkan untuk toples hias sehanga Rp 100 ribu menggunakan toples kaca dengan tambahan karet ditutup toples.

Mulatia, pemilik Ziestore yang membuat toples hias berbahan plastik mematok harga lebih rendah sekitar Rp 35-50 nibu. Bahan kain flanel yang harganya ekonomis juga lebih dipilih oleh Mulatia karena sifatnya lebih fleksibel dibuat berbagai variasi bentuk atau karakter. Sebelumnya ia menggunakan bahan mika namun risikonya dalam pengiriman gampang retak sehingga saat ini Ia menggunakan toples berbahan plastik nomor 5 kualltas food grade. Banyaknya hiasan flanel pada topping toples dan ukuran toples juga menentukan hanga jual.

Modal Kecil. Meski modal yang dikeluarkan kecil, namun keuntungan usaha ini cukup menjanjikan. Seperti halnya lka Ratnasari, pemilik Toples Hias Haneth yang hanya mengeluarkan modal Rp 100 ribu untuk membeli toples plastik berkualitas dan Lion membutuhkan modal awal sebesar Rp 500 ribu untuk membeli toples, kain flanel dan lem bakar.

Semakin mahal hanga jual, keuntungan akan semakin besar, apalagi bila harga bahan yang digunakan sangat murah seperti kain flanel. Menurut Mulatia pemilik Ziestore, dan toples yang dijualnya seharga Rp 35 nibu dan Rp 50 ribu, keuntungan lebih besar pada toples yang harganya lebih mahal, misalnya untuk toples hias seharga Rp 35 ribu untungnya hanya Rp 5.000, dan toples hias seharga Rp 50 ribu untungnya bisa sampai Rp 15 nibu. Karena itu keuntungan yang bisa diraih dan membidik pasar menengah atas lebih besar, bisa sampai 40%, sedangkan kelas menengah bawah hanya sekitar 20%.

Bagi pemula, bisa memulai dengan menjadi Reseller untuk mengetahui kondisi pasar, apalagi modalnya tak terlalu besar sehingga resiko rugi lebih kecil. Setelah itu bisa memulai membuat produk dengan kreasi sendiri yang dipelajari secara otodidak maupun lewat kursus dengan menyasar segmen menengah atas yang lebih berminat terhadap produk kemasan  reatif dibandingkan segmen menengah bawah yang tidak terlalu memperhatikan model namun lebih peka terhadap harga.

Strategi Pasar. Event pameran merupakan sarana efektif untuk menjaring pasar terutama kalangan perusahaan hingga konsumen luar negeri. Selain itu bisa menawarkan produk dengan jemput bola ke pasar modern, supermarket, toko buah, toko kue dan lainnya. Promosi dengan website dan jejaring sosial juga perlu dilakukan.

Pemasaran , kemasan juga bisa menggunakan tawaran Reseller, dengan syarat minimal pembelian tertentu misalnya sebanyak 6 pcs toples hias, dan diskon Rp 3 ribu/pcs. Untuk lebih menarik konsumen, bisa pula diberikan sistem paket, misalnya pembelian toples dan ternpat tisu dalam satu paket. Pelaku usaha juga bisa menawarkan paket kemasan box dan toples secara bersamaan, seperti halnya Kotak Kado yang dimiliki Oscar Arias Islam. Kemasan berbentuk kotak dan hard box tutup mika yang ditawarkan dilengkapi toples hias dan tali lilit ditempel manik-manik.

Semakin banyak toples harganya semakin mahal, Misalnya untuk box dengan 1 toples polos Rp 50 ribu, namun untuk box dengan 1 toples hias harganya lebih mahal hingga Rp 90 rlbu. Box dengan 2 toples hias Rp 170 ribu, dan box dengan 4 toples hias yang diberi tambahan magnet pada box dengan model bisa customized harganya Rp 200 ribu. Layanan pesanan customized tanpa minimal order juga mendorong konsumen untuk memesan produk kemasan, terutama dan kalangan perusahaan.

Persaingan pasar produk kemasan handmade lebih banyak dialami antara sesama pelaku produk kemasan lokal, dan tidak bersaing ketat dengan kemasan pabrikan yang sifatnya massal. Sehingga kerapian pengerjaan dan kualitas bahan serta desain kemasan sangat menentukan pilihan akhir konsumen. Jadi jika Anda tertarik melirik daya tarik kemasan yang memikat dan tampil mewah ini, ikuti informasi selanjutnya.